Monday, August 1, 2016

Journey to the Blitar (Pengalaman mudik dan travel)

HALOOOO SEMUAAA.....


Sudah bulan Agustus, dimana di berbagai negara menandakan hot summer, tapi kalau di Indonesia kebanyakan sih hot (at least in my city). Tapi ya gitu kalau pas hujan dingiinnn banget, karena musim yang naik turun ini, banyak yang terkena flu dan batuk, saya jadi harus memproteksi tubuh saya dengan baik >_<.

Kali ini saya akan bercerita pengalaman mudik saya bulan Juli kemarin, memang udah lama ya tapi rasanya saya ingin memasukkannya ke blog, karena saya cinta pengalaman di Blitar, I love the county too, and I think you guys should know it's beauty.


Saya ke Blitar dengan menggunakan kereta api, bagi saya ini seperti baru pertama kali. Karena meski dulu saya dibilang cukup sering menggunakan transportasi ini, saya belum pernah menggunakannya kembali sejak sistem reservasi tiket dirubah jadi lebih modern serta perubahan fasilitas bagi tiap-tiap kelas,  tapi yah saya masih harus bolak-balik ke stasiunnya karena kereta Penataran, yaitu kereta yang membawa saya ke Blitar tidak dapat dipesan secara online, jadi harus datang kesana dengan membawa KTP.

Perjalanan dengan kereta ini memakan waktu kurang lebih 5 jam, bukan hanya karena jauhnya sih, tapi karena kelas kereta Penataran ini ekonomi, jadi dia harus mengalah kalau jalurnya dipakai sama kelas bisnis dan eksekutif, sedih deh pas berangkatnya bahkan lebih dari 5 jam huhuhu, tapi untungnya disediakan air conditioner sehingga nggak gerah banget.

Saya berangkat jam 12 dan sampai jam 6 sore, setelah itu saya dijemput ibu saya yang sudah terlebih dulu mudik (saya nyusul besoknya karena belom libur kerja) di stasiun Blitar kota, dan saya menginap di hotel Patria, yaitu hotel bintang dua yang lokasinya dekat dengan stasiun, FYI, di Blitar ini jarang ada hotel, apalagi yang strategis, karena itu harga kamarnya agak tinggi.

Disamping tujuan mudik, saya juga berhasil mengunjungi tempat-tempat wisata dan kuliner di sekitar Blitar, berikut ini adalah tempat yang saya kunjungi :

1. De Classe Gellato and Coffee 


Malamnya setelah tiba di Blitar saya, keluarga, dan pacar saya pergi ke sebuah cafe yang ada di pusat kota Blitar, yaitu De Classe Gellato & Coffee, ini adalah salah satu cafe paling hits disini, tempatnya terbagi menjadi dua, yaitu sebagai coffee shop di depan, dan di belakang sebagai Gellato Coffeenya, Gellato disini adalah es krim dari Italia yang membedakan Gellato dengan Ice cream adalah kandungan Gellato lebih padat dan berat daripada Es krim. Saya dan rombongan memilih tempat di luar ruangan buat nongkrong, semacam taman gitu, suasananya nyaman dan bagus buat foto-foto. Meskipun pada saat itu senin malam, tempatnya ramaiii sekali.

Tapi sayangnya, pelayanannya tidak memuaskan, untuk membeli Gellatonya kita harus antri sendiri, memilih variannya secara langsung dan juga disediakan tester, membayarnya  saat itu juga, terus menunggu sebentar, dan bawa es krimnya. Mungkin karena rame jadinya banyak rasa yang sudah habis, serta untuk makanan dan minuman selain Gellato kita akan dilayani pegawainya, sayang pegawainya lupa pesanan saya saat itu dan tidak diantar-antar, akhirnya karena lelah menunggu, setelah gellatonya habis langsung ditinggal cabut aja.

Untuk rasa, unik-unik! Banyak rasa baru yang tidak saya ketahui, makanya bisa meminta tester, saya haru ngewarning sih, gak semua rasa uniknya enak :(.
Saya sendiri memilih aman dengan membeli yang rasa cokelat blackforest, rasanya enakkk banget! Untuk harga bervariasi tapi yah sekitar 10.000-20.000 untuk menunya.
me, my family, and my hubby

Didepan cafe


Rate : 2/5

Bintangnya jelek karena pelayanannya kurang

2. Kampung Cokelat Blitar

Keesokan harinya, saya beserta rombongan besar keluarga saya yang dari Ngawi (mereka juga datang ke Blitar) pergi ke Kampung Cokelat. Kampung Cokelat ini letaknya di Jalan Banteng Blorok No.18, Kademangan, Blitar.  Perjalanan dari Kota Blitarnya sendiri lumayan ya sekitar 20-30 menit menggunakan mobil.

Saat sampai disana saya lihat banyak rombongan dari berbagai kota datang untuk menikmati wisata ini, bahkan banyak rumah-rumah warga yang memiliki halaman luas membuka usaha parkir disekitar tempat ini.

Di Kampung Cokelat ini, sesuai dengan namanya mengulas semuanya tentang cokelat, biaya masuknya dipatok seharga 5000 rupiah, saat pertama masuk kita akan disambut dengan gambar atau foto serta dibawahnya ada catatan sejarah sejak kapan cokelat ada, dan bagaimana perkembangannya dari dunia sampai ke Indonesia. Lorong ini lumayan panjang dan gelap, tapi ada lampu highlight yang disediakan supaya pengunjung bisa membaca dan berfoto di depan penjelasan tersebut.


Setelah melewati lorong sejarah, saya dan rombongan disuguhi real life pohon cokelat berjejer dengan rapi, jumlahnya lumayan banyak tapi tidak ada cokelat satupun yang bisa dipetik ya, hehe.

Kami pun terus berjalan dan melihat 'commercial area', kenapa saya sebut begitu? Karena disini adalah food court, dimana kita bisa pesan segala makanan yang terbuat dari bahan cokelat, ada gula-gula, permen, mie cokelat, popcorn cokelat, dll. Harganya terjangkau dan dibayar langsung distandnya. Disebelah situ ada tempat terapi ikan untuk kaki dan tangan. jadi yang mau digigiti sama ikan biar kulit matinya terkelupas bisa kesitu. Harganya 8000, nanti kita akan disediakan bantalan duduk supaya lebih nyaman dan gak kotor ketika duduk di pinggir kolam.




just chilling with hot chocolate
Kalau udah puass menikati wisata nya, ada tempat souvenir dan oleh-oleh di dekat pintu keluarnya, sama seperti di lorong depan tadi, suasana tokonya remang-remang dan temanya cokelat bangett. Mulai dari gantungan kunci, hand mirror, sampai oleh-oleh seperti cokelat siap makan, cokelat bubuk, brownies kering, cokelat batangan, smuanya adaaa!

Ini adalah hasil borongan saya, yang sebenarnya gak beliin siapa-siapa sih, nanti juga dihabisin sendiri :p.



Give me moar!
Saya membeli brownies kering cokelat, popcorn cokelat, cokelat batang berbagai varian, cokelat rasa jeruk, stiker, hand mirror serta gantungan kunci. Harganya juga murah totalnya dibawah 200 ribu.



Rate 5/5
This is Chocolate paradise!!


3.  Pantai Tambakrejo

Setelah dari Kampung Cokelat kami menuju ke Pantai Tambakrejo, letaknya jauhh karena Blitar kota jauh dari laut. Butuh sekitar sejam dengan mobil baru kami tiba disana. Letaknya di desa Tambakrejo, pantai ini sudah terkenal di Blitar sehingga banyak penyewaan toilet, dan orang berjualan oleh-oleh maupun pakaian renang.



Keindahan pantai Tambakrejo
Pemandangan pantai ini sangat indah, dan tidak banyak sampah seperti di Bali. Sayangnya ombak pantai ini terbilang besar, dan berbahaya sehingga tidak diperkenankan berenang atau berselancar, apalagi kami datangnya sore hari pas waktu pasang, sehingga saya berkali-kali hampir tersapu ombak (dan hasilnya pakaian basah semua).

Disini saya dan rombongan membeli ikan bakar beberapa ekor, harganya terjangkau dan fresh dari laut, kita memakan ikan bakar di dekat pantai sambil meikmati pemandangan~
Sayangnya buat yang pecinta sunset disini gak bakal kelihatan sunsetnya, jadi tiba-tiba tambah gelap aja .

Rate : 4/5

4. Candi Penataran


Keesokan harinya kami pergi ke Candi Penataran, candi ini sangat terkenal di Blitar. Terletak di daerah Penataran, Nglegok, Blitar, dari hotel perjalanan dengan motor memakan waktu sekitar 15-20 menit. Kompleks wisata Candi Penataran ini terbilang luas, jadi sekitar 2 km dari candi sudah ada gapura wilayah wisata candi.

Meskipun tak sebesar Borobudur, candi ini juga memiliki warisan budaya yang tak kalah banyak, serta ada tempat pemandian jaman dahulu yang sekarang ditinggali oleh berbagai macam ikan, konon kalau kita membasuh muka disana kita akan awet muda, serta apabila melempar koin akan mendapat rejeki.



Saya sendiri juga melempar koin dan membasuh muka disana sih, penasaran hahaha.

kolam legendaris
5. Makam Bung Karno 

Tempat terakhir sebelum akhirnya kami harus mengejar jadwal kereta, adalah Makam Bung Karno. Makam ini terletak tepat di tengah Blitar Kota, dan berbeda dengan makam Bung Karno yang saya kenal dulu, sekarang tempatnya sudah diperluas dan diperbarui. Sekarang bukan hanya makam dan orang berjualan souvenir saja, tapi di kompleks makam bung Karno ini terdapat arsip perpustakaan, gallery, dan musium Bung Karno. 

Saya sendiri hanya masuk ke gallery dan musium nya, karena malas menitipkan tas supaya boleh masuk ke area perpustakaan >_<. Disana kita dapat melihat barang peninggalan Bung Karno, lukisan, foto beliau beserta keterangannya, serta barang yang pernah beliau gunakan, pokoknya semua yang berhubungan dengan Presiden pertama Indonesia.


Foto diatas adalah saya dan hubby saya berpose di depan lukisan Bung Karno yang paling sensasional karena konon sorot mata Bung Karno di lukisan tersebut dapat mengikuti kita.
Di komplek ini juga ada gong perdamaian, dimana tanda persatuan seluruh bangsa-bangsa. Kami sempat berfoto di depan.

gong perdamaian

Untuk makamnya sendiri, sekarang makam Bung Karno tidak ditutupi kaca seperti dulu, tapi konon jenasah beliau sudah dipindah ke tempat lain sehingga sekarang publik dapat secara langsung melihat makam beliau serta duduk tepat disebelahnya. Meski begitu masih ada orang yang terlihat berziarah kesana, sayang ketika akan masuk kita akan dikenakan biaya, saya lupa biayanya berapa, tapi yang jelas tidak mahal.

Saat akan keluar, kami dipusingkan dengan 'labirin' pasar souvenir, pintu keluar yang sekarang memang sengaja diarahkan ke area souvenir, tapi ya gitu, harus berputar-putar baru akhirnya keluar, pada saat itu juga cuacanya terik membuat kami kegerahan dan gak melirik souvenir sama sekali. Tapi saya lihat sih kebanyakan jual baju bergambar Sukarno serta kerajinan tangan seperti dari kerang atau kayu.

Suasana Kota

Kota Blitar bukanlah sebuah kota yang besar maupun padat, kebalikannya, masih banyak rumah yang sudah dari jaman dahulu berjejer di pinggir jalan raya, jarang sekali ada sampah di jalan serta lalu lintasnya tidak begitu padat. Kalau ingin menikmati fasilitas di kotanya kita tidak perlu pusing memilih jalan karena jalannya tidak berbelit belit, saya dan pacar saya telah mencoba berjalan-jalan pagi dari hotel sampai alun-alun, saya yang gampang cape saja takjub karena ternyata begitu dekat!

Tidak ada department store besar seperti Mat*hari, kebanyakan usaha adalah ruko, atau department store kecil. Saya bahkan kesusahan mencari Indom*rt atau Alf* karena pembangunan usaha francise seperti itu diatur ketat oleh pemerintah. Penataan kotanya berjalan, sehingga kita dapat melihat bangunan dirobohkan dan diberi keterangan bahwa harus dipindah supaya penataan kotanya tidak semrawut, saya rasa hal ini tidak mungkin dilakukan di daerah saya, padahal daerah saya juga bukan kota metropolitan seperti Surabaya, tapi udah sesak dan banyak polusi. 


alun-alun sekitar jam setengah 6 pagi

Sedangkan di Blitar ini masih teratur dan tidak sumpek, saya melihat tingkat kriminalitasnya juga rendah, saya berjalan pagi sekitar setengah 4 pagi tidak melihat anak muda nongkrong di warkop atau anak motor trek-trekan (balap motor) seperti di daerah saya, mungkin karena pergaulannya masih belum terlalu kekotaan, dan yang saya senangi adalah banyak pohon beringin di Blitar, jadi rasanya adem gitu.

Afterthought

Blitar adalah kota kecil yang hijau dan indah, masyarakatnya juga baik dan suasananya tidak padat, cuma ya itu, untuk memenuhi kebutuhan awal-awal kita harus tau mau beli perlengkapan dapur di ruko mana mau beli baju dimana karena tidak ada mall atau hypermarket seperti di kota besar.

Saya akhirnya pulang setelah puas menikmati wisata disini, dan pulang pada siang hari dengan kereta api, kereta kali ini juga sama molor dari waktu yang ditentukan, tapi gak apalah yang penting saya berangkat dan pulangnya selalu kebagian tempat duduk ^^.

Saya senang sekali bisa kesini once in awhile, sekian pengalaman saya kali ini, thanks for sticking up with me, leave comment,like, or share so I'll know what you think. See you ^^