Showing posts with label curhatan. Show all posts
Showing posts with label curhatan. Show all posts

Wednesday, August 1, 2018

Personal Experience : Perjalananku dalam Berusaha Memutihkan Kulit

HAAIIII SEMUAA....

Postingan pertama di bulan Agustus ini sedikit berbeda dari sebelumnya, karena aku kali ini tidak mereview sebuah produk melainkan sharing pengalamanku dalam memutihkan kulit. Bukan, ini bukan DIY atau beauty hack tentang cara bagaimana kulitku menjadi putih permanen, tetapi lebih ke arah sharing perjalananku selama ini dalam memutihkan kulitku. Interested? Then keep on reading!.




Oke, pertama you must know kalau aku adalah keturunan jawa dengan kulit sawo matang, alias cokelat. Meskipun ibuku memiliki kulit kuning langsat tapi bapakku memiliki kulit cokelat tua sehingga menghasilkan anaknya kulit cokelat sedang. Jadi seumur hidupku aku tidak pernah memiliki kulit putih ataupun kuning langsat, aku selalu melihat warna kulit cokelat yang sama.

Sebenarnya aku tidak tahu sejak kapan aku ingin memutihkan kulit, tapi masa kanak-kanak dan sekolah aku selalu menyukai manga dan anime, sehingga aku selalu suka melihat karakternya yang berkulit cerah. Saat disekolah aku cuek dengan penampilan sehingga wajah dan kulitku terlihat tambah kusam dan gelap, apalagi dengan selera fashionku yang cupu bahkan untuk seusiaku, yah bisa dibilang aku nerd dan gak gaul di sekolah haha. Banyak teman sekelas sejak SMP dan SMK mengkritisi kulitku yang gelap, apalagi dengan cewek-cewek yang suka merawat diri. Aku ingat dulu pada waktu upacara SMK aku bersebelahan dengan anak sekelasku yang memang suka makeup dan perawatan, dia bilang "Aku seneng kalau berjejer disampingmu, karena kulitku terlihat jauh lebih putih." Belum cukup, dia menjejerkan tanganku dengan tangannya dan berkata lagi "Duhhh kulitmu kok bisa sih gosong banget kayak gitu?" Aku yang cupu dulu tak bisa menjawab, tapi tetep aja komennya membekas sampai sekarang.

Akhirnya sampailah kelas 2 SMK aku mulai mengerti pentingnya merawat tubuhku, dan berusaha memotivasi diriku kalau aku nggak jelek-jelek amat kalau dirawat :p. Akhirnya  aku meminta krim malam dan pagi punya ibuku merk Tje Fuk, hasilnya kelihatan sih, tapi teksturnya terlalu think dan kalau keringetan jadi pektay gitu. Suatu hari ibuku memberiku produk Dempo Snow, gambarnya seperi ini :


Courtesy : google

Dulu aku tidak tahu apapun tentang skincare jadi aku hajar aja pake produk ini sampe habis 2 tab. Perubahannya pesat loh, kulitku jadi jauh lebih putih dan bersinar, tapi ngga sampai licin dan glowing kayak krim pemutih geje. Teman-teman sekelas mengetahui perubahanku dan entah perlakuan mereka padaku jadi lebih baik, sejak itu aku tahu kalau penampilan bisa berpengaruh dengan perlakuan seseorang. 

Sampai akhirnya aku tidak dibelikan krim Dempo lagi sama ibuku karena penjualnya pindah (ceritanya yang jual temennya ibuku sendiri), sehingga berangsur-angsur kulitku kembali seperti semula, sampai sekarang aku tidak tahu merk Dempo ini abal atau ngga. Dan tentu, temen-temen sekelas mulai bercanda "Si *namaku* kok jadi item lagi ya? Padahal dulu udah putih loh," "Yah mungkin kebanyakan berjemur dipantai jadi gosong hahaha."  Setelah itu mereka mulai nggak peduli sama aku seperti sebelum aku pake krim.

Lanjut, kali ini perjalananku saat lulus dan mulai bekerja. Entah pressurenya semakin kuat atau aku yang sudah nggak tahan sehingga aku memutuskan untuk terobsesi tampak lebih putih. Saat taun 2014 booming makeup Korea macam Etude, Innisfree, Tony Moly, dkk. Aku membeli BB Cream Etude House yang ini :


courtesy google

Aku pilih shade Honey Beige, dan hasilnya... masih kelihatan putih banget di mukaku, dengan culunnya aku ke kantor pake bb cream doang dan dibilang terlalu tebel bedaknya, mungkin karena aku ga pake alis, lipstick, dll seperti sekarang jadi keliatan pucet banget hahaha. Setelah itu aku mulai pakai alis dan hasilnya nayyy banget, tapi dulu pede banget meskipun diketawain orang kantor, pokoknya taun 2014-2015 itu aku belajaran pake makeup Korea, kalau diinget-inget norak banget hasilnya wkwkwk.

Pada tahun 2015 aku juga mulai mengenal cosplay dan terjun di dalamnya, disitulah aku lagi-lagi dihadapkan pada kenyataan kalau kulit putih lebih preferable daripada kuilt gelap. Tahu sendiri kan fans anime itu kebanyakan laki-laki remaja dengan ekspektasi tinggi bagi para cosplayer anime favoritnya, sehingga kalau cosplayer tersebut kulitnya ga putih pasti ga di notice seperti aku. Gara-gara itu juga stigmaku tentang kulit putih is the best terus menumpuk . Aku sempat ngedown dan benci dengan warna kulitku sendiri, kalau lihat cewek-cewek lain yang mulus dan kulitnya putih itu iri banget, apalagi kalau pas event cosplay banyak yang memuji dan minta foto.

Akhirnya aku beralih ke perawatan sabun pemutih  dan kapsul pemutih. Dulu taun 2015-2016 booming produk-produk sabun, lotion, bahkan kapsul pemutih dari Thailand, aku dulu pertama memakai :

courtesy : google

Yap, Gluta Pure Soap ini sempet ngehits dan menjadi pelopor produk sabun pemutih lain, bahkan ada beberapa blogger yang mereview. Aku mencobanya dan hasilnya badanku malah gatal-gatal dan ada bentol-bentol merah gede, pertama sih maksa, tpi akhirnya aku nyerah dan menyimpulkan sabun ini gak cocok buat aku. Kemudian aku beralih ke Gluta Lapunzel, penampakannya seperti ini :


courtesy google 

Pemakaiannya 1x sehari dan satu box cukup untuk sebulan, harganya dulu mayan mahal sekitar 200rb an, tapi lagi-lagi hasilnya ga seperti yang aku harapkan, badanku kembali bentol-bentol merah dan gateell bangettt, akhirnya aku ga lanjut, malah yang ada kulitku jadi banyak bekas bentol yang susah hilang, hiks.

Terakhir aku pakai merk Thailand adalah pada postinganku yang ini, yaitu sabun Jelly's Pure Soap :



Packagingnya gemesh banget, dan ini faktor utama aku khilaf make huehehe. Tapi tetep aja aku alergi dan aku memutuskan kalau sebenernya ak ga cocok pakai sabun yang ada Glutathionenya, akhirnya aku tidak memakai produk pemutih Thailand lagi.

Nah setelah itu aku entah melihat vlogger-vlogger seperti Rachel Goddard dan Suhay Salim ditambah dengan vlogger luar negeri, dari mereka aku tersadar cantik itu ga harus putih gitu loh. Malah kalau pakai makeup nih vlogger-vlogger terlihat lebih glowing dan eksotis daripada vlogger berkulit putih. Setelah melalui proses batin yang panjang, akhirnya aku made a peace with myself, aku ngga membenci kulit cokelatku lagi, bahkan aku justru embrace it, I'm a Javanese with brown skin and it's ok.

Setelah rangkaian-rangkaian perawatan pemutih itu sebenarnya ada hasilnya sih, kulitku ngga gelap banget kayak dulu, justru malah jadi cokelat muda, tapi dengan bentol-bentol merah diatasnya huhu. Akhirnya aku mulai ke klinik kecantikan untuk facial dan pakai krim klinik (untuk bahasan wajah ini lain postingan ya) sedangkan untuk tubuh aku rajin luluran dan memakai jaket, hand body, sarung tangan, serta kaos kaki kalau keluar rumah, setelah itu aku juga mulai rajin merawat wajah dengan rangkaian skincare dan sunblok, hasilnya tentu aku ngga jadi putih, tapi at least aku ngga gosong kena panas.

Yah beginilah sharingku soal pengalaman memutihkan kulit, aku ngga pernah mencoba pakai DIY masker atau bikin beauty hack soalnya aku udah kapok sama hal yang tidak pasti (cielah) mending aku pakai metode aman meski hasilnya lama,  kulitku yang bentol-bentol bekasnya juga mulai sembuh. So I'm actually content with myself.

Saranku buat kalian yang memiliki kulit cokelat atau gelap sepertiku janganlah sedih dan rendah diri, bersyukurlah dengan apa yang Tuhan berikan, lebih baik fokus ke mencerahkan bukan memutihkan, karena cerah itu pasti terlihat segar dan menarik apapun warna kulitnya, sekeras apapun kita yang berkulit gelap tak akan bisa menjadi seputih cewek Korea kecuali kalau kita suntik putih atau skin bleaching. 

Thanks udah baca postinganku yang abal ini, maaf kalau isinya ngga sesuai ekspektasi pas lihat judulnya. See you on the next post~

Monday, August 1, 2016

Journey to the Blitar (Pengalaman mudik dan travel)

HALOOOO SEMUAAA.....


Sudah bulan Agustus, dimana di berbagai negara menandakan hot summer, tapi kalau di Indonesia kebanyakan sih hot (at least in my city). Tapi ya gitu kalau pas hujan dingiinnn banget, karena musim yang naik turun ini, banyak yang terkena flu dan batuk, saya jadi harus memproteksi tubuh saya dengan baik >_<.

Kali ini saya akan bercerita pengalaman mudik saya bulan Juli kemarin, memang udah lama ya tapi rasanya saya ingin memasukkannya ke blog, karena saya cinta pengalaman di Blitar, I love the county too, and I think you guys should know it's beauty.


Saya ke Blitar dengan menggunakan kereta api, bagi saya ini seperti baru pertama kali. Karena meski dulu saya dibilang cukup sering menggunakan transportasi ini, saya belum pernah menggunakannya kembali sejak sistem reservasi tiket dirubah jadi lebih modern serta perubahan fasilitas bagi tiap-tiap kelas,  tapi yah saya masih harus bolak-balik ke stasiunnya karena kereta Penataran, yaitu kereta yang membawa saya ke Blitar tidak dapat dipesan secara online, jadi harus datang kesana dengan membawa KTP.

Perjalanan dengan kereta ini memakan waktu kurang lebih 5 jam, bukan hanya karena jauhnya sih, tapi karena kelas kereta Penataran ini ekonomi, jadi dia harus mengalah kalau jalurnya dipakai sama kelas bisnis dan eksekutif, sedih deh pas berangkatnya bahkan lebih dari 5 jam huhuhu, tapi untungnya disediakan air conditioner sehingga nggak gerah banget.

Saya berangkat jam 12 dan sampai jam 6 sore, setelah itu saya dijemput ibu saya yang sudah terlebih dulu mudik (saya nyusul besoknya karena belom libur kerja) di stasiun Blitar kota, dan saya menginap di hotel Patria, yaitu hotel bintang dua yang lokasinya dekat dengan stasiun, FYI, di Blitar ini jarang ada hotel, apalagi yang strategis, karena itu harga kamarnya agak tinggi.

Disamping tujuan mudik, saya juga berhasil mengunjungi tempat-tempat wisata dan kuliner di sekitar Blitar, berikut ini adalah tempat yang saya kunjungi :

1. De Classe Gellato and Coffee 


Malamnya setelah tiba di Blitar saya, keluarga, dan pacar saya pergi ke sebuah cafe yang ada di pusat kota Blitar, yaitu De Classe Gellato & Coffee, ini adalah salah satu cafe paling hits disini, tempatnya terbagi menjadi dua, yaitu sebagai coffee shop di depan, dan di belakang sebagai Gellato Coffeenya, Gellato disini adalah es krim dari Italia yang membedakan Gellato dengan Ice cream adalah kandungan Gellato lebih padat dan berat daripada Es krim. Saya dan rombongan memilih tempat di luar ruangan buat nongkrong, semacam taman gitu, suasananya nyaman dan bagus buat foto-foto. Meskipun pada saat itu senin malam, tempatnya ramaiii sekali.

Tapi sayangnya, pelayanannya tidak memuaskan, untuk membeli Gellatonya kita harus antri sendiri, memilih variannya secara langsung dan juga disediakan tester, membayarnya  saat itu juga, terus menunggu sebentar, dan bawa es krimnya. Mungkin karena rame jadinya banyak rasa yang sudah habis, serta untuk makanan dan minuman selain Gellato kita akan dilayani pegawainya, sayang pegawainya lupa pesanan saya saat itu dan tidak diantar-antar, akhirnya karena lelah menunggu, setelah gellatonya habis langsung ditinggal cabut aja.

Untuk rasa, unik-unik! Banyak rasa baru yang tidak saya ketahui, makanya bisa meminta tester, saya haru ngewarning sih, gak semua rasa uniknya enak :(.
Saya sendiri memilih aman dengan membeli yang rasa cokelat blackforest, rasanya enakkk banget! Untuk harga bervariasi tapi yah sekitar 10.000-20.000 untuk menunya.
me, my family, and my hubby

Didepan cafe


Rate : 2/5

Bintangnya jelek karena pelayanannya kurang

2. Kampung Cokelat Blitar

Keesokan harinya, saya beserta rombongan besar keluarga saya yang dari Ngawi (mereka juga datang ke Blitar) pergi ke Kampung Cokelat. Kampung Cokelat ini letaknya di Jalan Banteng Blorok No.18, Kademangan, Blitar.  Perjalanan dari Kota Blitarnya sendiri lumayan ya sekitar 20-30 menit menggunakan mobil.

Saat sampai disana saya lihat banyak rombongan dari berbagai kota datang untuk menikmati wisata ini, bahkan banyak rumah-rumah warga yang memiliki halaman luas membuka usaha parkir disekitar tempat ini.

Di Kampung Cokelat ini, sesuai dengan namanya mengulas semuanya tentang cokelat, biaya masuknya dipatok seharga 5000 rupiah, saat pertama masuk kita akan disambut dengan gambar atau foto serta dibawahnya ada catatan sejarah sejak kapan cokelat ada, dan bagaimana perkembangannya dari dunia sampai ke Indonesia. Lorong ini lumayan panjang dan gelap, tapi ada lampu highlight yang disediakan supaya pengunjung bisa membaca dan berfoto di depan penjelasan tersebut.


Setelah melewati lorong sejarah, saya dan rombongan disuguhi real life pohon cokelat berjejer dengan rapi, jumlahnya lumayan banyak tapi tidak ada cokelat satupun yang bisa dipetik ya, hehe.

Kami pun terus berjalan dan melihat 'commercial area', kenapa saya sebut begitu? Karena disini adalah food court, dimana kita bisa pesan segala makanan yang terbuat dari bahan cokelat, ada gula-gula, permen, mie cokelat, popcorn cokelat, dll. Harganya terjangkau dan dibayar langsung distandnya. Disebelah situ ada tempat terapi ikan untuk kaki dan tangan. jadi yang mau digigiti sama ikan biar kulit matinya terkelupas bisa kesitu. Harganya 8000, nanti kita akan disediakan bantalan duduk supaya lebih nyaman dan gak kotor ketika duduk di pinggir kolam.




just chilling with hot chocolate
Kalau udah puass menikati wisata nya, ada tempat souvenir dan oleh-oleh di dekat pintu keluarnya, sama seperti di lorong depan tadi, suasana tokonya remang-remang dan temanya cokelat bangett. Mulai dari gantungan kunci, hand mirror, sampai oleh-oleh seperti cokelat siap makan, cokelat bubuk, brownies kering, cokelat batangan, smuanya adaaa!

Ini adalah hasil borongan saya, yang sebenarnya gak beliin siapa-siapa sih, nanti juga dihabisin sendiri :p.



Give me moar!
Saya membeli brownies kering cokelat, popcorn cokelat, cokelat batang berbagai varian, cokelat rasa jeruk, stiker, hand mirror serta gantungan kunci. Harganya juga murah totalnya dibawah 200 ribu.



Rate 5/5
This is Chocolate paradise!!


3.  Pantai Tambakrejo

Setelah dari Kampung Cokelat kami menuju ke Pantai Tambakrejo, letaknya jauhh karena Blitar kota jauh dari laut. Butuh sekitar sejam dengan mobil baru kami tiba disana. Letaknya di desa Tambakrejo, pantai ini sudah terkenal di Blitar sehingga banyak penyewaan toilet, dan orang berjualan oleh-oleh maupun pakaian renang.



Keindahan pantai Tambakrejo
Pemandangan pantai ini sangat indah, dan tidak banyak sampah seperti di Bali. Sayangnya ombak pantai ini terbilang besar, dan berbahaya sehingga tidak diperkenankan berenang atau berselancar, apalagi kami datangnya sore hari pas waktu pasang, sehingga saya berkali-kali hampir tersapu ombak (dan hasilnya pakaian basah semua).

Disini saya dan rombongan membeli ikan bakar beberapa ekor, harganya terjangkau dan fresh dari laut, kita memakan ikan bakar di dekat pantai sambil meikmati pemandangan~
Sayangnya buat yang pecinta sunset disini gak bakal kelihatan sunsetnya, jadi tiba-tiba tambah gelap aja .

Rate : 4/5

4. Candi Penataran


Keesokan harinya kami pergi ke Candi Penataran, candi ini sangat terkenal di Blitar. Terletak di daerah Penataran, Nglegok, Blitar, dari hotel perjalanan dengan motor memakan waktu sekitar 15-20 menit. Kompleks wisata Candi Penataran ini terbilang luas, jadi sekitar 2 km dari candi sudah ada gapura wilayah wisata candi.

Meskipun tak sebesar Borobudur, candi ini juga memiliki warisan budaya yang tak kalah banyak, serta ada tempat pemandian jaman dahulu yang sekarang ditinggali oleh berbagai macam ikan, konon kalau kita membasuh muka disana kita akan awet muda, serta apabila melempar koin akan mendapat rejeki.



Saya sendiri juga melempar koin dan membasuh muka disana sih, penasaran hahaha.

kolam legendaris
5. Makam Bung Karno 

Tempat terakhir sebelum akhirnya kami harus mengejar jadwal kereta, adalah Makam Bung Karno. Makam ini terletak tepat di tengah Blitar Kota, dan berbeda dengan makam Bung Karno yang saya kenal dulu, sekarang tempatnya sudah diperluas dan diperbarui. Sekarang bukan hanya makam dan orang berjualan souvenir saja, tapi di kompleks makam bung Karno ini terdapat arsip perpustakaan, gallery, dan musium Bung Karno. 

Saya sendiri hanya masuk ke gallery dan musium nya, karena malas menitipkan tas supaya boleh masuk ke area perpustakaan >_<. Disana kita dapat melihat barang peninggalan Bung Karno, lukisan, foto beliau beserta keterangannya, serta barang yang pernah beliau gunakan, pokoknya semua yang berhubungan dengan Presiden pertama Indonesia.


Foto diatas adalah saya dan hubby saya berpose di depan lukisan Bung Karno yang paling sensasional karena konon sorot mata Bung Karno di lukisan tersebut dapat mengikuti kita.
Di komplek ini juga ada gong perdamaian, dimana tanda persatuan seluruh bangsa-bangsa. Kami sempat berfoto di depan.

gong perdamaian

Untuk makamnya sendiri, sekarang makam Bung Karno tidak ditutupi kaca seperti dulu, tapi konon jenasah beliau sudah dipindah ke tempat lain sehingga sekarang publik dapat secara langsung melihat makam beliau serta duduk tepat disebelahnya. Meski begitu masih ada orang yang terlihat berziarah kesana, sayang ketika akan masuk kita akan dikenakan biaya, saya lupa biayanya berapa, tapi yang jelas tidak mahal.

Saat akan keluar, kami dipusingkan dengan 'labirin' pasar souvenir, pintu keluar yang sekarang memang sengaja diarahkan ke area souvenir, tapi ya gitu, harus berputar-putar baru akhirnya keluar, pada saat itu juga cuacanya terik membuat kami kegerahan dan gak melirik souvenir sama sekali. Tapi saya lihat sih kebanyakan jual baju bergambar Sukarno serta kerajinan tangan seperti dari kerang atau kayu.

Suasana Kota

Kota Blitar bukanlah sebuah kota yang besar maupun padat, kebalikannya, masih banyak rumah yang sudah dari jaman dahulu berjejer di pinggir jalan raya, jarang sekali ada sampah di jalan serta lalu lintasnya tidak begitu padat. Kalau ingin menikmati fasilitas di kotanya kita tidak perlu pusing memilih jalan karena jalannya tidak berbelit belit, saya dan pacar saya telah mencoba berjalan-jalan pagi dari hotel sampai alun-alun, saya yang gampang cape saja takjub karena ternyata begitu dekat!

Tidak ada department store besar seperti Mat*hari, kebanyakan usaha adalah ruko, atau department store kecil. Saya bahkan kesusahan mencari Indom*rt atau Alf* karena pembangunan usaha francise seperti itu diatur ketat oleh pemerintah. Penataan kotanya berjalan, sehingga kita dapat melihat bangunan dirobohkan dan diberi keterangan bahwa harus dipindah supaya penataan kotanya tidak semrawut, saya rasa hal ini tidak mungkin dilakukan di daerah saya, padahal daerah saya juga bukan kota metropolitan seperti Surabaya, tapi udah sesak dan banyak polusi. 


alun-alun sekitar jam setengah 6 pagi

Sedangkan di Blitar ini masih teratur dan tidak sumpek, saya melihat tingkat kriminalitasnya juga rendah, saya berjalan pagi sekitar setengah 4 pagi tidak melihat anak muda nongkrong di warkop atau anak motor trek-trekan (balap motor) seperti di daerah saya, mungkin karena pergaulannya masih belum terlalu kekotaan, dan yang saya senangi adalah banyak pohon beringin di Blitar, jadi rasanya adem gitu.

Afterthought

Blitar adalah kota kecil yang hijau dan indah, masyarakatnya juga baik dan suasananya tidak padat, cuma ya itu, untuk memenuhi kebutuhan awal-awal kita harus tau mau beli perlengkapan dapur di ruko mana mau beli baju dimana karena tidak ada mall atau hypermarket seperti di kota besar.

Saya akhirnya pulang setelah puas menikmati wisata disini, dan pulang pada siang hari dengan kereta api, kereta kali ini juga sama molor dari waktu yang ditentukan, tapi gak apalah yang penting saya berangkat dan pulangnya selalu kebagian tempat duduk ^^.

Saya senang sekali bisa kesini once in awhile, sekian pengalaman saya kali ini, thanks for sticking up with me, leave comment,like, or share so I'll know what you think. See you ^^

Saturday, March 19, 2016

My Personal Experience with Hair Bleaching + Coloring

Haiiii semuuaa!!!

Dengan saya disini, kali ini saya tidak akan membahas review (maybe) tapi sekedar sharing pengalaman dalam mewarnai rambut XD

Saya adalah cewek yang teracuni fancy hair color seperti cewek-cewek di Instagram, tau kan tren rainbow hair? Galaxy hair? Ombre hair? dan hair hair lainnya....


Dulu saya coba browsing tentang caranya bisa mendapatkan rambut seperti itu dan omigad ternyata mehong sekali cyinn! Dan gak semua salon bisa melakukannya, apalagi yah... ini Indo gitu yang paling-paling emak-emak minta semir warna merah atau pirang. Jadilah harapan saya pupus punya rambut fancy.

Sampai saya bekerja ada 2 tahun, tiba-tiba keinginan buat punya rambut gonjreng datang kembali. Kali ini saya menargetkan punya rambut ombre, but with unusual color.

Dengan keinginan yang menggebu-gebu saya meluncur ke salon dekat rumah, FYI, salon ini mungkin di pinggir jalan tapi terbilang bagus buat kelas low end, saya pikir dapat menekan cost dengan hasil yang lumayan lah, gak berharap sebagus di IG sih.

Sampai disanaaa, mbaknya nanya saya mau warna apa, saya langsung berpikir cepat dan ngomong... UNGU!!!

Bukannya saya penggemar ungu, tapi itu warna yang terlihat ngejreng tapi masih relatif "wajar" lah buat orang-orang.


Mbaknya menyarankan saya di bleaching ujung rambutnya biar keluar warnanya. Saya sebenarnya tidak ingin di bleaching karena kabarnya bikin rambut rusak, tapi saya pernah melakukan toning hitam jadi akan susah sekali warna lain masuk tanpa di bleach dulu. Dengan sedikit was-was saya iyain aja, dan akhirnya.... SAYA PUNYA RAMBUT UNGU!! FELT SO COOL!!! XD

Saya punya foto ketika saya berambut ungu ini



disini g bgitu ungu, kena epek kamera hihihi


Dan yak, sejak saat itu saya ketagihan mewarnai ombre, dari ungu ke hijau, terus ombre biru, abu-abu, terus oranye.

Saya tidak punya foto saat ombre hijau dan oranye, kalau yang biru sama abu-abu ada sih...


di poto ini saya mengecet rambut atas coklat dan bawah biru, tidak terlihat ya ;_;

Abu-abu, kalau di real terlihat kehijauan, mungkin karena saya pernah cat hijau, dan FYI hijau itu warnanya susah hilang.

Satu hal yang saya perhatikan setelah bleaching, rambut saya jadi kasaaar, astaga kasar sekalee. Mbaknya bilang kalau saya harus pakai vitamin rambut, saya akhirnya beli Ellips, pertama yang varian merah-item Keratin smooth, tapi setelah tau ada yang warna ungu khusus untuk membuat warna rambut lebih tahan lama saya beralih kesana.

Tapi tetap saja, kasaaarrrr dan patah-pataah!!


APAKAH SAYA KAPOK MEWARNAI SETELAH ITU?


TIDAK!!!!

Disinilah kebodohan saya terjadi XD

Saya memutuskan untuk mengecat seluruh rambut saya dengan warna yang tidak gonjreng tapi tetep bukan item (I dunno why I hate my black hair so much).

Saya memutuskan untuk pergi ke salon yang cukup terkenal di daerah saya, tempatnya ruko gitu sih, tapi cyiinn, salon ini terkenal berkualitas, mereka juga membuka toko yang isinya mulai dari perlengkapan salon sampai makeup.


Nah kembali ke cerita penghancuran pewarnaan rambut saya. Saya datang disambut dengan mbak-mbak dengan rambut hitam mengkilap ala iklan shampoo, setelah saya mengatakan niat saya dia berkata lebih baik memakai warna yang gelap dan di bleach karena meski warnanya gelap tapi akan tetep kliatan bukan item karena kena bleach.

Saya yang nggak berniat ngebleach lagi karena takut rusak menolak dan ingin ambil warna yang terang tapi tidak di bleach, jadi meskipun gagal tetep lah ada nyantol dikit.

Eh si mbak salonnya ngotot dan berkata yang bekas bleaching dulu tidak usah di bleaching lagi, yang atasnya saja, terus nanti baru ditimpa warna coklat tua.

Karena terus dibujuk maulah saya sambil was-was nanti bayar berapa, karena saya bawa uang pas buat mewarnai rambut saja tidak pakai bleach. Dan saya sebenarnya belom pernah keluar lebih dari 150 rb buat ngurusin rambut.

Berikut adalah saya yang sedang dianiaya dengan bleaching serta semirnya yang super panas di kulit kepala :



kiri : sebelum proses, kanan : saat proses

Saat nge-bleaching rambut atas saya, mbaknya juga ngebleach se kulit kepalanya! Saya bilang panas dan sakit, dianya ngotot katanya biar hasil bagus. Saya akhirnya cuma meratap pasrah, sampe kepala pusing kena bau serta sakitnya.

Belum selesai, setelah di keramasi, ternyata bleaching nya belom rata, dan harus diulangi lagi!!!! FYI cuma bagian poni yang masih gelap, yang lainnya sudah, jadilah setelah bleaching lagi (dengan bahan yang lebih keras supaya cepat!!!) akhirnya bagian kulit kepala saya putih dan terang sekali sedangkan bagian poni masih sedikit gelap.

Saya dalam kondisi lelah belum makan, lesu, kesakitan, hampir saja menangis dan pengen pingsan rasanya. Kepala  ini rasanya seperti sedang dikuliti oleh suku Indian di Amerika.

Bagian pengecatan juga begitu, karena kulit kepalanya lebih terang, jadi hasilnya juga tidak merata cokelat, di atas cokelat terang sekali, sampai pegawai salonnya bolak-balik memberi cat rambut cokelat tua biar sama dengan bagian ujung (catnya saya lirik sih merk L'oreal, dan itu panaas sekali)

Saya datang sekitar jam setengah satu dan pulang jam lima sore, rasanya saya pengen ngamuk saja dengan mbak salonnya, karena dia tidak memperhitungkan kenyamanan pelanggan dan terus mengatakan "biar hasilnya bagus dan rata."

Lega telah berhasil melewati my personal torture chamber, saya melihat hasilnya, mbaknya juga sempat mengeriting rambut saya.

berasa kayak wanita Eropa abad 18 dengan rambut keritingnya




Saya harus membayar 375.000 untuk bleaching + coloring, serta saya disarankan membeli conditioner serta vitamin rambut yang banyak untuk merawat rambut saya yang sekarang full bleaching ini. Total habis sekitar 400+.

Apakah saya puas dengan hasilnya? TIDAK. Karena saya ingin cokelat tua dan jadinya cokelat muda, bahkan jika terkena sinar matahari pacar saya bertanya, "Rambut kamu cat pirang tua ya? Kayak bule kesasar."

Aish, saya dongkol juga karena saya kulitnya nggak putih-putih amat, cokelat malah, dan diberi warna gini berasa kusem dan kayak cabe-cabean di perempatan. Apalagi saya perhatikan makin lama luntur jadi oranye....

Yang saya perhatikan juga setelah mengecat rambut saya kulit kepala saya terkelupas, saya rasa si karena kena panasnya bleaching itu. 


Saya yang agak takut dengan reaksi orang kampus nanti melihat ada bule nyasar (untung masih saat liburan), serta orang tua saya yang terkaget-kaget dengan anaknya pulang kok jadi kayak gini, dua minggu kemudian saya memutuskan untuk mencoba mewarnai lagi rambut saya dengan warna cokelat tua banget.

Saya pergi ke salon dekat rumah yang jarang saya coba, dan HASILNYA TETAP COKELAT MUDA! Orang salonnya menyarankan kalau memang pengen gelap lagi pakai item aja, saya pun menatap ibu nya dengan tatapan pengen nangis 'saya udah ngabisin banyak duit buat this damn bleaching hair dan sekarang ditutup hitam lagi kan kejam'.

Akhirnya diberi solusi untuk mengecet hitam dengan didiamkan sebentar banget, sekitar 10 menit. Katanya sih nanti warnanya gak begitu meresap, jadi kapan-kapan kalau mau cat warna lain gak usah ngabisin duit buat bleaching lagi.

Saking desperate nya saya setuju, dan akhirnya hitamlah rambut saya... phew.

Sudah sekitar 3 minggu rambut saya cat hitam, dan sekarang separo sudah luntur jadi cokelat lagi. Tapi bukan cokelat muda thank God, cokelat tua kayak highlight gitu.

Jujur saya kapok deh kayaknya ngecat rambut lagi, saya gak pengen beneran dihitamkan bukan karena pengen ngecet lagi, tapi karena "SAYA SUDAH KELUAR UANG BANYAK BUAT KEMAREN BLEACHING ITU MASAK YA SAYA HILANGKAN BEGITU SAJAA"

Biarlah saya melupakan childish dream buat punya rambut rainbow atau galaxy, memang yang paling bagus ya buatan Tuhan, mungkin saya memang harus mengalami proses seperti ini agar dapat menghargai yang Ia ciptakan.


YAK, itulah curhatan dan pergulatan saya dalam ngecat rambut. Thanks for sticking up with me, if you interested, comment below so I know what you think! See you ^^